Mitos bulan suro

Mitos bulan suro

Mitos, Kurafat, Tahayul, Syirik pada Muharram (Suro)

Bulan
Muharram adalah termasuk bulan yang istimewa bagi umat muslim. Dimana pada bulan ini berbagai peristiwa penting menghiasai sejarah ummat Islam. Dan yang paling penting adalah hijrahnya Nabi Muhammad saw dan para shahabat dari Makkah ke Madinah yang kemudian dijadikan sebagai penetapan awal bulan hijriyah.

Muharram menurut orang Jawa
Muharram di Jawa disebut dengan bulan Suro. Menurut masyarakat Jawa, bulan Suro adalah bulan keramat. Di dalam bulan ini mereka tidak boleh mengadakan acara hajatan atau pesta seperti pernikahan, sunatan, dan acara lainnya. Jika dilanggar maka…..malapetaka dan musibah akan menghampiri.
Ritual bulan Muharram

Karena dianggap sebagai bulan keramat, maka masyarakat mengadakan berbagai macam acara diantaranya :
1.Tirakatan.
Tirakan biasanya diadakan pada malam satu suro (Muharram). Pada malam ini masyarakat melakukan ritual, renungan, dan do’a-do’a. tujuannya adalah untuk mensyukuri apa yang telah diberikan Tuhan dan agar terhindar dari mala petaka.
2.Sadranan
Yaitu pembuatan nasi tumpeng yang dihiasai berbagai macam lauk dan kembang. Mirip dengan sesaji. Kemudian nasi tumpeng tadi dihanyutkan ke laut selatan yang disertai juga dengan kepala kerbau.
Menurut cerita, tujuan sadranan supaya sang ratu pantai selatan memberikan berkah dan tidak mengganggu. Masyarakat yang melakukan acara ini ada di daerah pesisir selatan Tulungagung dan Cilacap.
3.Kirab kerbau bule.
Bentuk acaranya adalah dengan membawa kerbau berkeliling yang kemudian dimandikan. Kerbau ini dikenal dengan nama Kyai Slamet yang berada di keraton Kasunanan Solo. Peristiwa ini sangat dinantikan oleh warga baik warga Solo maupun dari luar Solo. Mereka mengharapkan berkah dari sang kerbau dengan memegang kerbau, mengambil air bekas mandi kerbau, bahkan ada yang mengambil kotoran kerbau. Na’udzubillah.
4.Lek-lekan
Mitos yang lain Yaitu berjaga tidak tidur hingga pagi hari di tempat-tempat umum (tugu Yogya, Pantai Parangkusumo, dan sebagainya). Sebagian masyarakat Jawa lainnya juga melakukan cara sendiri yaitu mengelilingi benteng kraton sambil membisu .
5.Ngalap Berkah
Yaitu dengan mengunjungi daerah yang dianggap keramat atau melakukan ritual-ritual, seperti mandi di grojogan (dengan harapan dapat membuat awet muda).
6.Memandikan keris pusaka
Agar terhindar dari mara bahaya, masyarakat memandikan pusaka seperti keris, pedang, tombak, dan senjata lainnya. Mereka mengira bahwa senjata itu harus dirawat dan dijaga. Jika tidak maka dia akan murka.
7. Ruwatan
yang berarti pembersihan. Mereka yang diruwat diyakini akan terbebas dari sukerta atau kekotoran. Ada beberapa kriteria bagi mereka yang wajib diruwat, antara lain ontang-anting (putra/putri tunggal), kedono-kedini (sepasang putra-putri), sendang kapit pancuran (satu putra diapit dua putri). Mereka yang lahir seperti ini menjadi mangsa empuk Bhatara Kala, simbol kejahatan.

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Blog's Vendra - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger